18 April 2011

Mahasiswa Entrepreneur

Seiring dengan pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi, tentu saja desakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya akan semakin tinggi.  Bisa dilihat dari pola konsumsi masyarakat di daerah perkotaan yang padat penduduknya akan lebih besar daripada daerah pedesaan yang jarang penduduknya. Tentu saja kota Jakarta akan berbeda tingkat konsumerismenya dengan kota Cirebon.
Akibat dari pertumbuhan jumlah penduduk dan usaha pemenuhan kebutuhan hidup yang tidak sesuai, pengangguran sudah menjamur dimana-mana, baik di kota-kota besar maupun di daerah pedesaan. Masyarakat pedesaan yang menganggap bahwa kota besar merupakan tempat mencari nafkah yang tepat ternyata salah besar. Banyak masyarakat pedesaan yang justru “terjebak” di  kota-kota besar karena tidak berhasil mendapat pekerjaan.
Mahasiswa sebagai pelopor pergerakan, mahasiswa sebagai pelopor semangat kepemudaan harusnya bisa menjadi solusi. Hal-hal kecil bisa dimulai dari lingkungan terdekatnya, mencoba dunia entrepreneur misalnya. Entrepreneur disini diartikan sebagai suatu aktivitas yang secara konsisten dilakukan guna mengkonversi ide-ide yang bagus menjadi kegiatan usaha yang menguntungkan (Peter F. Drucker).

Entrepreneur juga bisa menjadi salahsatu solusi untuk mengatasi pengangguran, bagaimana tidak?dengan kegiatan entrepreneur ini diharapkan kita bisa memberdayakan umat atau paling minimal bisa membuat hidup kita lebih mandiri. Seperti teman saya, Riza M. Irmawan, dengan usaha percetakan Motekar nya, dia sudah bisa hidup mandiri. Pencapaian prestasi yang baik untuk seorang mahasiswa.
Menurut Elang Gumilang, menjadi seorangentrepreneur itu memiliki beberapa keuntungan :
  1. Bebas mengatur waktu
  2. Bayangkan kehidupan kantoran yang jam masuk, jam istirahat, jam makan siang, jam pulang sudah diatur sedemikian rupa sehingga lama-kelamaan akan membuat kita jenuh dengan rutinitas yang monoton. Akan tetapi dengan menjadi seorang entrepreneur, waktu kita tidak akan diikat oleh rutinitas harian seperti di kantor.
  3. Rezeki yang lebih banyak dan barokah
  4. Apabila kita bekerja di kantor, gaji bulanan dan tunjangan telah ditetapkan oleh kantor, sehingga tidak ada motivasi untuk melakukan gebrakan. Menjadi seorang entrepreneurI, kita dituntut untuk terus bekerja keras karena penghasilan kita ditentukan oleh kerja keras kita.
  5. Multiplier effect yang lebih banyak
  6. Dengan berwirausaha, kita bisa saja membuka lapangan pekerjaan untuk orang lain. Angka pengangguran pun bisa diturunkan dengan menggalakkan program entrepreneurship. Menjadi entrepreneur juga dituntut kemandirian, baik itu kemandirian secara finansial maupun kemandirian individu.
Menjadi entrepreneur tidak bisa lepas dari 3 prinsip, yaitu : iman, ilmu, ikhtiar. Iman sebagai fondasi dasar kita dalam melakukan segala aktivitas, tentunya iman inilah yang akan menjadi benteng pelindung kita dari segala perbuatan maksiat dan kecurangan-kecurangan dalam berbisnis.
Ilmu sebagai basis pergerakan. Pengaturan strategi bisnis, proposal bisnis harus dipersiapkan dengan matang. Tidak mungkin seorang entrepreneur yang sukses tidak dibekali dengan ilmu. Seiring dengan keberjalanan bisnisnya, jatuh-bangunnya ketika menjalani bisnis, itulah yang akan memperkaya ilmunya tentang dunia entrepreneurship.
Ikhitar menjadi pelaksanaan kata-kata. Hasil yang besar akan dicapai dengan pengorbanan yang besar. Seperti yang saya kutip dari novel Negeri 5 Menara : MAN JADDA WA JADA (Siapa yang bersungguh-sungguh akan berhasil). Itulah yang menjadi ghirah (penyemangat) dalam meraih impian.

17 April 2011

Menjadi Entrepreneur Muda, Siapa Takut!

Belakangan ini ada satu hal menarik yang terjadi di dunia mahasiswa. Fenomena tersebut adalah semakin berkembangnya iklim dan semangat untuk menjadi wirausaha muda. Salah satu bukti nyata dapat kita lihat dari maraknya berbagai macam perlombaan terkait dunia bisnis. Mulai dari lomba simulasi bisnis (simbis), lomba ide bisnis kreatif, lomba marketing, hingga dana hibah untuk memulai suatu bisnis.
Lantas, Bagaimanakah seharusnya kita memaknai fenomena-fenomena ini? Dunia mahasiswa yang penuh dinamika merupakan sebuah lahan subur untuk memupuk tumbuhnya para wirausahawan muda. Mahasiswa dengan segenap pengetahuannya ditambah dengan ide-ide “liar” plus keberanian khas pemuda merupakan modal awal yang telah dimiliki untuk menjadi pengusaha. Namun, pertanyaannya adalah kenapa hingga saat ini masih sedikit sekali lahirnya para pengusaha hebat dari kalangan mahasiswa, dibandingkan para sarjana yang mengantri mencari pekerjaan di berbagai bursa tenaga kerja?.
Memang tidak dipungkiri telah cukup banyak lahir wirausaha muda yang lahir dari para mahasiswa. Sayangnya, jumlah ini masih sangat kecil jika kita prosentasekan. Ajang kompetisi seperti Pekan Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) adalah salah satu contoh nyata tentang betapa besarnya potensi yang dimiliki mahasiswa. Dalam ajang ini ratusan hingga ribuan mahasiswa didanai oleh Dikti untuk merealisasikan ide-ide bisnis mereka.
Tidak jarang hanya dengan bermodalkan tidak lebih dari 10 juta rupiah, bisnis mereka dapat berkembang dengan pesat. Omset mereka mampu menembus angka ratusan juta rupiah dalam setahun. Hal yang sangat luar biasa, terlebih biasanya mereka masih dalam masa studi di bangku kuliah.
Melihat realita ini sudah sepatutnya mahasiswa harus diberikan perhatian lebih terkait pertumbuhan jumlah wirausaha muda di Indonesia. Disinilah peran penting Pemerintah dalam menstimulus agar jiwa-jiwa entrepreneur para mahasiswa dapat tumbuh sehingga mahasiswa tidak lagi menjadi kuli-kuli di negeri sendiri. mahasiswa tidak lagi mencari pekerjaan pasca lulus tetapi justru para mahasiswalah yang menyediakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat luas.
Pemerintah tentu tidak dapat bergerak sendiri. Pemerintah dapat melakukan kerja sama dengan pihak kampus dalam memberikan stimulus agar jiwa-jiwa entrepreneur dapat tumbuh subur dalam diri mahasiswa. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk memupuk jiwa entrepreneur dalam diri mahasiswa.
Pertama, Salah satu cara paling efektif adalah menyediakan kurikulum khusus terkait entrepreneur. Kurikulum ini dapat dijadikan kurikulum wajib universitas sehingga kurikulum ini wajib diambil oleh para mahasiswa lintas fakultas tanpa memandang mahasiswa dari jurusan apa pun.
Kedua, pihak kampus dapat bekerja sama dengan Pemerintah, Bank, Perusahaan, atau donatur untuk menyediakan dana hibah bagi mahasiswa untuk merealisasikan ide-ide bisnis mereka. Di Universitas Indonesia (UI) sendiri program semacam ini sudah ada setidaknya dalam kurun dua tahun terakhir. Hasilnya cukup menakjubkan. Banyak bermunculan entrepreneur-entrepreur muda dengan ide-ide bisnis yang brilian. Ada yang berbisnis dari yang sederhana seperti cuci steam motor hingga bisnis kelinci hias lahir dari dana hibah ini.
Ketiga, Adakan program pembimbingan yang berkesinambungan. Sebagai orang baru yang terjun di dunia bisnis, mahasiswa tentu belum cukup banyak merasakan asam garam dunia bisnis. Di sinilah letak pentingnya bimbingan dari berbagai pakar dan praktisi untuk menjadi mentor bagi para mahasiswa sehingga bisnis yang ditekuni oleh para mahasiswa dapat berjalan terus tanpa harus terputus di tengah jalan.
Itulah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk menghasilkan para wirausahawan muda, khususnya dari kalangan mahasiswa. Mengingat angka pengangguran dan kemiskinan yang masih begitu tinggi, kehadiran para pengusaha-pengusaha baru dapat menjadi oase kehidupan dan solusi bagi berbagai permasalahan sosial bangsa ini.
Jika satu orang pengusaha baru minimal mampu mempekerjakan dua orang pegawai, maka satu juta pengusaha baru dapat menciptakan dua juta lapangan pekerjaan baru. Belum lagi jika orang yang dipekerjakan tadi merupakan seorang kepala keluarga yang menanggung keluarganya, dapat dibayangkan betapa besarnya jasa seorang pengusaha bagi bangsa ini. So, menjadi pengusaha/entrepreneur muda, Siapa takut!

Sembilan Tipe Entrepreneur Sukses


Seringkali saya dan mungkin Anda juga bertanya tentang kesuksesan seseorang, misalnya “apa yang membuat seseorang sukses? “, “Bagaimanawirausahawan mencapai sukses?”, “apa saja kiat pebisnis untuk mencapai sukses?”, dan mungkin masih banyak pertanyaan lainnya mengenaikesuksesan yang dicapai seseorang.
Coba Anda bertanya kepada seseorang apakah faktor kesuksesan seseorang? mungkin ada sebagian menjawab berani menghadapi resiko (risk taker), mudah bergaul (outgoing person), atau kerja keras (workaholic), kreatif, tidak mudah menyerah, dll. Menurut Rhonda Byrne, ternyata jawaban-jawaban tersebut tidak semuanya benar. Rhonda banyak sekali berteman dengan pengusaha-pengusaha sukses, dan ternyata diantaranya ada yang tidak suka menghadapi resiko, tidak suka kerja keras, dll. Lalu bagaimana mereka bisa menghasilkan banyak uang? Jawabannya adalah karena mereka menemukan dan menjalankan bisnis yang sesuai dengan “Passion” mereka sehingga bisa memaksimalkan potensi yang mereka miliki. Passion ini kemudian dikategorikan menjadi sembilan hal yang dinamakan 9 Tipe Entrepreneur.
Berdasarkan pengalaman Rhonda, sebagian besar wirausaha sukses (entrepreneur) memulai bisnis mereka dimulai dari ketertarikan, hobi, atau minat mereka. Misalnya Anda suka terhadap kuliner, anda bisa membuka restaurant, atau Anda bisa membuka kursus memasak, atau Anda bisa menulis buku tentang memasak, dan lainnya. Banyak sekali yang bisa Anda lakukan untuk memulai bisnis melalui minat Anda.
Sembilan Tipe Entrepreneur menurut Rhonda Byrne :
1. Penasehat/Konsultan (Advisor).
Para konsultan memperoleh uang dari jasa mereka memberikan saran atau mencarikan solusi bagi klien-klien mereka. Kebanyakan para konsultan dipercaya karena pendidikan dan pengalaman mereka. Misal profesi konsultan : konsultan keuangan, konsultan marketing.
2. Organisator/Administrator
Tipe kedua ini adalah tipe pengusaha yang memantain atau me-managejalannya sebuah bisnis. Misal : Event organizer, jasa maintain database sebuah perusahaan.
3. Creator
Tipe yang satu ini adalah tipe pembangun bisnis. Kebanyakan orang-orang ini adalah tipe orang kreatif yang mampu membuat barang atau jasa baru yang sebelumnya tidak ada. 
4. Care Taker
Tipe ini adalah tipe yang mampu merawat sebuah bisnis, kebanyakan tipe ini adalah orang yang sabar, tekun, dan konsisten. Misalnya : pengusaha yang bergerak di bidang property, tanaman.
5. Communicator/ Trainer.
Tipe communicator adalah tipe entrepreneur yang mampu mentransfer informasi sebagai demand (permintaan). Misalnya, penulis, trainer, atau salesman.
6. Entertainer
Tipe ini adalah tipe entrepreneur yang mampu membuat atau menambah pengalaman positif bagi orang lain. Misalnya : aktor, penyanyi, atau produser.
7. Investor/Owner
Tipe ini adalah tipe entrepreneur yang mampu membuat uang mereka bekerja. Misalnya pemilik bisnis, investor real estat, atau saham.
8. Seller
Tipe ini memiliki keahlian dalam menjual apapun. Apapun barang atau jasa, di tangan mereka, produk tersebut bisa menjadi uang. Misalnya broker properti, asuransi, atau salesman.
9. Engineer / Technology
Tipe ini adalah pengusaha yang memiliki keahlian di bidang teknik, misalnya bidang otomotif, software engineer.
Bagaimana dengan Anda? Anda termasuk tipe entrepreneur sukses yang mana dari sembilan tipe entrepreneur menurut Rhonda Byrne?
Dengan mengenali kelebihan, kemampuan, skill, dan minat Anda, Anda telah berada di jalur menuju kesuksesan.
Semoga Bermanfaat

4 Modal Menjadi Entrepreneur (Ternyata Bukan Uang)

Wimar’s World Rabu malam (28/3) menghadirkan tiga orang entrepreneur yaitu Bob Sadino (pemilik supermarket Kem Chicks), Hadrijanto Satyanegara (PR Manager Patrakom), dan Fred Hehuwat (salah satu pendiri Yayasan ASHOKA Indonesia). Mereka adalah orang-orang yang tidak putus asa bahkan bersemangat dan memberi contoh kepada kita. Berikut potongan percakapan mereka dengan Wimar Witoelar.


Empat Modal Entrepreneur

Wimar: Katanya, Anda dulu pelaut, lalu bagaimana Anda bisa sampai menjadi entrepreneur dengan membuka supermarket?
Bob: Sederhana saja. Saya dulu bekerja di negeri Belanda dan berkeliling Eropa. Ketika kembali ke Indonesia, saya melihat telor di sini berbeda dengan telor yang saya lihat di Eropa.
Wimar: Apa bedanya?
Bob: Beda bentuknya. Jadi, saya meminta orang mencari ayam yang bisa bertelor.
Wimar: Apakah saat itu Anda sudah ahli ayam atau telor?
Bob: Salah satu faktor saya menjadi seperti saat ini karena saya beruntung tidak mengetahui apa-apa.
Wimar: Apakah Anda mempunyai banyak teman di bank yang bisa menyediakan modal?
Bob: Bank hanya untuk menabung saja
Wimar: Jadi tidak betul orang membutuhkan modal untuk membangun usaha baru.
Bob: Apa pengertian modal itu? Banyak orang hanya menterjemahkan modal itu hanya benda yang bisa dilihat dan dihitung saja, pokoknya uang. Sebetulnya ada modal yang tidak bisa dilihat. Ini modal pegangan bagi seseorang untuk menjadi entrepreneur yaitu,
  1. Harus mempunyai kemauan
  2. Tekad yang bulat
  3. Keberanian mengambil peluang. Ada sejuta peluang di luar sana termasuk di dalam badan kita sendiri
Wimar: Bob, saya bertemu banyak sekali orang yang ingin menjadi enterpreuner. Katanya, itu susah sekali karena iklim tidak kondusif, peraturan tidak berpihak pada pengusaha. Bagaimana ini Bob?
Bob: Ketiga faktor tadi belum membuat seseorang untuk masuk menjadi enterpreuner. Faktor keempat adalah Anda jangan cengeng dan tahan banting.


Manfaatkan Teknologi

Wimar: Kita beralih ke Hadrijanto. Perusahaan Anda menyediakan sarana telekomunikasi di perusahaan terpencil. Bagaimana perusahaan Anda bisa berbisnis di daerah terpencil?
Hadrijanto: Kita melihat ada peluang usaha dan keterbatasan saran telekomunikasi terutama di luar Pulau Jawa. Mereka mempunyai kebutuhan dan terkadang mereka memiliki uang. Telekomunikasi itu bukan lagi kebutuhan sekunder tapi sudah primer. Karena itu kita berupaya membantu menyediakan sarana telekomunikasi di daerah terpencil.
Wimar: Berapa banyak dan dimana contohnya?
Hadrijanto: Di Kalimantan Timur seperti di daerah pedalaman Samarinda, Tabang. Kalau sekarang jumlahnya sekitar 150 unit
Wimar: Jadi karena daerah terpencil maka mereka mesti wireless. Jadi dipergunakan satelit.
Hadrijanto: Iya, kita mengadakan warung telekomunikasi satelit (Wartelsat).
Wimar: Kuncinya di sini mahal tapi kok bisa dikerjakan dan orang tidak membayar mahal. Jadi, siapa yang memberikan dukungan sehingga ini tersedia?
Hadrijanto: Sebenarnya yang mendukung itu teknologi. Kita memanfaatkan teknologi yang ada. Kita melakukan rekayasa teknologi di dalamnya sehingga kita bisa. Secara kualitas memang tidak bisa mencapai seperti cyber atau berlangganan, tapi untuk daerah terpencil cukup memadai agar ada sarana telekomunikasi.
Wimar: Apakah investasi itu akan kembali dari sisi uang?
Hadrijanto: Mungkin bukan kembali tapi kita berusaha mencapai break event point saja. Itu sudah bagus.
Wimar: Itu mungkin perbedaannya antara perusahaan tempat Anda bekerja dengan Bob Sadino. Kalau Bob, pure entrepreneur yaitu investasi dan uang kembali. Sedangkan Anda, ada yang investasi dan kembali dalam bentuk menyenangkan masyarakat.


Social Entrepreneur ASHOKA

Wimar: Ini yang ketiga Fred Hehuwat. Dia pada 1983 mendirikan Yayasan ASHOKA Indonesia. Saya tahu karena turut mendirikannya, tapi saya tidak tahu kelanjutannya. ASHOKA memakai konsep social entrepreneur. Apa konsep itu dan apa yang dikerjakan Ashoka saat ini?
Fred: Kalau kita biasanya mengaitkan dengan kegiatan ekonomi. Memang lahirnya istilah social entrepreneur ini dari Ashoka. Kalau kita membandingkan sektor ekonomi dan industri yang perkembangannya sangat maju maka bidang sosial seperti pendidikan dan kesehatan tertinggal. Kalau kita melihat kondisi di Indonesia, kondisi sosial merupakan yang sangat parah. Siapa yang menangani ini? Biasanya kita menggantungkan harapan pada pemerintah. Kita semua tahu pemerintah banyak keterbatasannya. Kalau ini tidak ada jalan pintas yang diciptakan maka keadaannya makin lama makin ketinggalan.
Wimar: Apa orang yang dibina ASHOKA?
Fred: Kita membina orang-orang yang memiliki program-program entrepreneur. Awalnya, seseorang melihat keadaan, mengenal lapangan, mempunyai ide cemerlang, mempunyai kemampuan menyelesaikan masalah, tidak tergantung fasilitas, dan sebagainya, maka ide cemerlang itu akan kita bantu. Kita mencari orang-orang seperti itu.
Wimar: Berapa orang yang sudah dibina sejak 1989?
Fred: Sekarang ada sekitar 140 orang di Indonesia.
Wimar: Ini konsepnya internasional. Kalau dengan contoh konsep internasional, kita mungkin lebih mengerti social entrepreneur itu?
Fred: Kalau kita melihat social entrepreneur yang top adalah Muhammad Yunus dari Banglades dengan program di Grameen Banknya sehingga meraih hadiah Nobel. Idenya itu yang paling unik dan bagus.
Wimar: Kalau saya membaca di brosur Anda, ASHOKA banyak juga bergerak di daerah-daerah. Bagaimana cara mengatasi hambatan-hambatan yang terjadi di sana?
Fred: Saya kira mereka tidak akan menunggu sesuatu tapi melihat keadaan. Kemungkinan-kemungkinannya berbeda. Kendalanya juga berbeda. Jadi mereka sama sekali tidak menunggu sesuatu dari luar. Dari mereka sendiri tumbuh ide, "Oh, keadaannya begini. Ini yang bisa saya lakukan."
Wimar: Bagaimana Anda memilih orang yang akan dibina itu?
Fred: Saya kira kita memang memilah-milah orang terutama berdasarkan penilaian,
  1. Apakah idenya itu baru?
  2. Apakah orang yang melakukan itu, menurut penilaian kami, mempunyai kemampuan?
  3. Bagaimana dampaknya ide tersebut? Kalau dampaknya kecil maka kita tidak tertarik.
Wimar: Kalau Bob Sadino 50 tahun lalu yaitu saat masih remaja, apakah bisa menjadi pilihan ASHOKA? Apakah syarat-syarat yang ada pada diri Bob itu yang dicari ASHOKA?
Fred: Mungkin sifat-sifatnya iya, tapi bidangnya mungkin tidak. Bob tentu ingin berhasil secara komersial, sedangkan yang kita nilai adalah bagaimana dampaknya pada kehidupan sosial.
Alfi (penelpon dari Bekasi): Saya sangat tertarik dengan Yayasan ASHOKA Indonesia. Bagaimana mekanisme kontrol terhadap orang yang didukung sebagai entrepreneur di ASHOKA?
Wimar: Jadi pertanyaannya bagaimana niat baik orang tersebut bisa dikontrol?
Fred: Pertama, kita memiliki jaringan yang cukup banyak sehingga dapat memberi informasi ke kita. Kedua, kita tentu memonitor bagaimana perkembangan selanjutnya dari orang yang didukung. Sesungguhnya ASHOKA sendiri tidak mau banyak mengontrol. Kalau entrepreneur mau berkembang jangan terlalu banyak dikontrol, jadi kita hanya memonitor saja.


Dampak Perubahan Pemerintah

Wimar: Kita telah mengalami perubahan drastis pemerintahan sejak 1998 hingga sekarang. Jika dibandingkan dengan situasi sebelumnya, apakah ada perbedaan perubahan tersebut untuk masing-masing bidang entrepreneur?
Fred: Sangat berbeda. Dulu kita untuk mendirikan ASHOKA harus mengumpet-umpet. Sekarang sangat leluasa
Bob: Iya ada perbedaan. Tapi Saya dari dulu tidak tertarik dengan pemerintah. Saya hanya ingin kami jangan terlalu banyak diatur-atur karena yang tahu mengenai usaha saya adalah saya.
Hadrijanto: Kalau kita melihat lebih baik sekarang karena peraturan pendukungnya jauh lebih baik dan sikap dari teman-teman daerah juga sudah lebih terbuka.

14 April 2011

5 Alasan Gagal Menjadi Entrepreneur

Banyaknya anggapan yang salah dari masyarakat tentang entrepreneur, menimbulkan berbagai ketakutan dan keraguan dalam diri mereka untuk memulai usaha. Anggapan-anggapan tersebut juga menurunkan motivasi masyarakat untuk menjadi seorang entrepreneur, sehingga sebagian besar orang mengubur impiannya menjadientrepreneur sukses dan lebih memilih posisi aman dengan bekerja.
Walaupun entrepreneur muda kini mulai bermunculan, namun masih banyak masyarakat yang selalu beranggapan bahwa membuka usaha itu sulit. Bahkan ada pula yang beranggapan bahwa pengusaha sukses biasanya juga berasal dari keluarga pengusaha, alias keahlian turun temurun.
Tahukah Anda, bahwa hal seperti itulah yang menjadi kendala terbesar bagi diri Anda untuk memulai usaha. Agar tidak terjebak dengan anggapan salah yang bisa menghalangi kesuksesan Anda, mari kita lihat 5 alasan gagal menjadi entrepreneur yang sering membuat Anda takut. Inilah beberapa anggapan salah masyarakat, yang menghambat Anda menjadi seorang entrepreneur :
1. Entrepreneur adalah keahlian turun-temurun.
Banyak orang beranggapan bahwa menjadi entrepreneur itu biasanya karena ada faktor keturunan. Karena mereka melihat banyak pengusaha yang sukses, merupakan anak atau saudara dari seorang entrepreneur juga. Padahal sebenarnya semua orang bisa menjadi seorang entrepreneur. Sebenarnya para pengusaha tersebut bisa sukses, karena mereka sudah terbiasa belajar bisnis sejak masih kecil. Bukan karena garis keturunan yang dimilikinya. Walaupun Anda bukan dari keluarga wirausaha, Anda juga bisa menjadi seorang entrepreneur sukses. Bila Anda memiliki tekad dan motivasi bisnis yang kuat.
2. Menjadi entrepreneur membutuhkan modal besar.
Modal usaha memang penting, tapi yang perlu diingat adalah tidak semua usaha membutuhkan modal besar. Banyak usaha yang dapat dimulai dengan modal kecil, seperti bisnis online, atau usaha rumahan dengan menjadi reseller produk. Kedua peluang usaha tersebut bisa dimulai dengan modal usaha yang relatif kecil, bahkan bisa dibilang usaha tanpa modal. Selain itu, modal uang juga bukan jaminan utama seorang entrepreneur bisa sukses. Masih ada modal lain yang dibutuhkan untuk menjadi seorang entrepreneur, seperti yang pernah kita bahas pada artikel “Apa saja kebutuhan modal untuk memulai usaha?” beberapa pekan yang lalu.
3. Entrepreneur bisa sukses, karena mendapat peluang bagus.
Keinginan seseorang untuk membuka usaha, sering terhambat karena mereka selalu berpikiran bahwa sebuah usaha bisa sukses karena adanya peluang bagus. Sehingga mereka hanya terus menunggu sampai peluang bagus itu datang menghampiri mereka. Padahal peluang usaha itu dicari, bukan hanya ditunggu. Peluang bagus itu sebenarnya berasal dari diri Anda sendiri, sebab peluang usaha bisa Anda ciptakan sendiri dari hobi maupun skill yang Anda miliki.
4. Entrepreneur merupakan bakat, dan tidak bisa dipelajari.
Jiwa wirausaha itu ada, bukan karena bakat semata. Keahlian dalam menjalankan bisnis bisa diperoleh dengan berbagai cara, misalnya saja mengikuti  pelatihan bisnis, seminar bisnis, atau membaca buku-buku dan majalah bisnis yang sekarang banyak beredar dipasaran. Asalkan ada tekad yang kuat, keahlian dan pedoman menjalankan bisnis dapat Anda kuasai dari proses belajar. Bukan hanya karena bakat dari dalam diri seseorang, karena orang berbakat pun tidak akan berhasil tanpa adanya latihan dan belajar.
5. Entrepreneur memiliki resiko usaha yang tinggi.
Resiko usaha yang cukup tinggi, juga menjadi momok menakutkan bagi kebanyakan orang. Banyak orang beralasan takut memulai usaha, karena resikonya cukup tinggi. Ketahuilah, bahwa segala sesuatu itu ada resikonya. Bukan hanya entrepreneur saja yang memiliki resiko tinggi. Menjadi seorang karyawanpun juga memiliki resiko tinggi, misalnya saja resiko terkena PHK. Jadi hilangkan segala ketakutan yang ada dalam diri Anda, dan cobalah untuk membuat peluang baru dari setiap resiko yang dimungkinkan terjadi. Sehingga langkah Anda tidak berhenti begitu saja, dan harus berani berkembang untuk menjadi entrepreneur sukses guna menghilangkan resiko yang Anda takutkan.
Dari pembahasan diatas, Anda dapat mengetahui bahwa semua anggapan tersebut ternyata tidak benar. Dan yang paling penting adalah, sumber hambatan menjadi entrepreneur muncul karena adanya ketakutan Anda. Oleh karena itu, lawan rasa takut Anda dan mulailah menjadi seorang entrepreneur, untuk membuktikan bahwa semua sumber hambatan itu bisa diatasi. Semoga berhasil dan salam sukses.

Bagaimana Menerjuni Dunia Entrepreneur


Apakah Anda mau dan ingin menerjuni dunia bisnis, sekarang atau nanti? Jawabnya harus mau dan ingin. Sepertinya jawaban itu cukup memaksa Anda untuk mulai memikirkan tentang fenomena berikut ini.

Jika Anda bekerja pada orang lain, adalah baik jika Anda mempertimbangkan untuk terus meniti karir sampai ke puncak. Tapi sebagai pekerja, Anda juga pasti akan pensiun.

Jika Anda mengikuti pola dan alur pensiun yang normal dan alamiah, maka ketahuilah bahwa saat Anda pensiun, Anda juga pada dasarnya pensiun dari semua pemberi kerja, bukan hanya dari pemberi kerja Anda saat ini. Terlebih lagi, jika pola "normal" dan "alamiah" itu erat kaitannya dengan usia produktif.

Akan cukup sulit bagi Anda, setelah pensiun di usia 30, 40, atau bahkan 50 tahun, menemukan pemberi kerja yang mau mempekerjakan Anda. Dan sangat mungkin, Anda sendiri pun akan bosan dengan lagi-lagi bekerja untuk orang lain.

Apa yang pasti adalah; Anda jelas tak ingin setelah pensiun langsung mati. Sisa usia Anda mungkin masih 10, 20, atau malah 50 tahun juga.

Jadi, mau tidak mau, ingin tak ingin, Anda juga harus mulai berpikir tentang menerjuni dunia entrepreneur, baik sesegera mungkin atau segera setelah Anda pensiun.

Berikut inilah yang bisa saya temukan tentang tipe-tipe entrepreneur yang memulai dunia entrepreneurshipnya.

Early Birds

Inilah tipe entrepreneur yang sejak awal telah memproyeksikan dirinya menjadi entrepreneur. Mereka telah mempertimbangkan dunia entrepreneur sejak mereka masih di bangku sekolah. Bagaimanapun situasi dan keadaan sekolah mereka, cita-cita mereka setelah lulus adalah menjadi entrepreneur.

Mereka mungkin sudah mulai berbisnis sejak di sekolah. Atau mereka secara mandiri mempelajari dunia entrepreneurship.

Maka bagi mereka, siap tidak siap nantinya setelah selesai bersekolah, mereka tidak ingin bekerja pada orang lain, tapi sebaliknya berkeinginan besar menjadi pemberi kerja.

Beberapa dari mereka, bahkan tidak sempat menyelesaikan sekolahnya karena kesibukannya berbisnis.

Secara pribadi, saya sangat mengidam-idamkan keadaan di mana anak-anak Indonesia, sudah mulai diperkenalkan dengan dunia entrepreneurship sejak masih SMP atau SMU.

Alangkah bagusnya jika di SMP atau SMU, kita bisa melihat keberadaan radio sekolah, televisi sekolah, koran sekolah, majalah sekolah, koperasi sekolah, atau divisi bisnis sekolah, yang dikelola dengan profesional oleh anak-anak muda berusia belasan tahun.

Smooth Lander

Mereka adalah para profesional yang terus mengasah kemampuannya, sembari meniti karir ke jenjang yang setinggi-tingginya. Mereka menantikan peluang emas di mana para pemodal mau memberi mereka kesempatan untuk menjalankan sebuah bisnis.

Fenomena yang paling umum terjadi adalah pemupukan sumber daya dalam bentuk tabungan dan investasi yang menghasilkan berbagai macam passive income. Kita mengenal mereka sebagai orang-orang yang akrab dengan tantenya yaitu "Bude Ros".

Amphibi

Mereka adalah para profesional muda yang penuh dengan semangat, tapi cukup berhati-hati dalam menjalani petualangan bisnis.

Segera setelah memungkinkan, setelah berbagai kebutuhan dasar terpenuhi, mereka mulai melakukan berbagai bentuk gerilya. Mulai dari yang kurang mulus seperti ngobyek atau mencuri waktu dan kesempatan, atau yang cukup elegan dengan mulai membangun bisnis rumahan, bisnis online, atau bisnis jaringan.

Mereka mungkin membiayai keluarganya untuk mengoperasikan sebuah bisnis pemula. Mereka juga mungkin membuka kios atau memanfaatkan garasi rumahnya. Mereka juga mungkin membangun aliansi dengan teman sekerja, mendirikan perusahaan baru yang belum diterjuninya secara total.

Mereka akan segera menerjuni bisnis secara total, manakala berbagai parameter dan persyaratan pribadi mereka dianggap sudah terpenuhi. Misalnya punya cadangan yang setara dengan dua tahun gaji mereka selama ini, atau sudah punya sumber lain yang ajeg dan tetap, dan sebagainya.

Free Diver

Yang ini adalah benar-benar petualang. Mereka tak terlalu peduli tentang keamanan posisi cadangan dan sumber daya. Mereka benar-benar mengandalkan impian dan kekuatan kemauan. Mereka hanya tahu satu hal, yaitu keinginan, cita-cita, atau obsesi dan idealisme mereka.

Ships Burner

Mereka adalah orang-orang yang sejak dini telah membaktikan hidupnya untuk dunia bisnis. Bisa jadi, mereka bahkan tidak pernah mengenyam bangku pendidikan formal. Sekolah mereka adalah dunia bisnis yang nyata.

Mereka bergerak dan mengoperasikan bisnis demi bisnis. Jika sebuah bisnis belum berjalan sesuai harapan, mereka tak akan segan meninggalkannya dan menerjuni dunia bisnis yang lain, sekalipun dunia bisnis baru itu masih cukup gelap bagi mereka.

Jika sebuah bisnis ternyata membawa kebangkrutan atau tidak berkembang, setelah merasa cukup berupaya menyelamatkannya, dan itu tidak dianggap berhasil, mereka tak akan segan-segan "membakar" kapal mereka. Mereka akan membangun kapal yang baru, dan segera mengarungi samudera kembali.

Slow Surfer

Mereka adalah para pebisnis yang meyakini peribahasa "sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi bukit".

Mereka tidak ragu membangun bisnis yang dianggap orang lain kecil atau remeh. Mereka lebih berfokus pada pola pembelajaran. Mereka meyakini bahwa sekecil apapun itu, jika ditekuni pasti akan membawa hasil.

Revolusionist

Mereka adalah orang-orang yang sedikit banyak punya jiwa penjudi (dalam konteks positif tentu saja). Mereka meyakini yang satu ini: "Hanya diperlukan satu kesuksesan, untuk menciptakan rentetan kesuksesan sampai tujuh turunan".

Pelajarilah semua tipe di atas, refleksikan pada diri Anda. Jika Anda telah menemukan yang mana tipe Anda, maka mulailah melakukan modelling dengan konsep ATM. Amati, Tiru, Modifikasi.

Semua tipe-tipe entrepreneur di atas bukanlah harga mati. Sebab Anda, sangat mungkin menemukan dan mengembangkan tipe dan cara Anda sendiri, untuk menjadi pebisnis yang sejati.

Semoga bermanfaat.

MITOS Tentang ENTREPRENEUR

Barusan Blogwalking dan sempat baca Tulisan  Pak WURYANANO  tentang maraknya workshop atau pun seminar seminar tentang Entrepreneur, saya setuju dengan Beliau, saya pun pernah mengikut seminar kewirausahaan baru-baru ini dan ada hal yang saya rasakan kurang yaitu dari sekian orang yang memberikan testimonial : " Mengapa yang di ceritakan dengan penuh semangat hanya kesuksesannya bla...bla... .." mendapatkan pinjaman Bank tanpa modal sepeser pun bahkan dapat "susuk", memiliki usaha di tempat A,B,C...," Mengapa tidak ada yang Sharing tentang segala kendala2 yang dia jalani dalam bisnis/usahanya dan bagaimana dia meng-handle semua itu sampai ke tahap "sukses"?? Bagaimana prosesnya bisa dapat pinjaman dari Bank pada awalnya yang sama sekali belum memiliki Track Record? Kita semua tahu Bank sangatlah Selektif dalam mengucurkan dananya, kita harus punya punya jejak rekam yang bagus dst....kalau kita sebagai entrepreneur tentunya dari Track Record bisnis yang kita geluti, Seharusnya itu juga hal yang tidak kalah penting selain Spirit tentunya Skill Pengetahuan dan Keterampilan adalah Penunjang yang solid pula untuk para Entrepreneur pemula ( seperti saya? :D) Untuk mengasah/memperkuat mental dan memberikan solusi di tengah ketatnya Dunia usaha, Melihat Orang Sukses tentu sangat menyenangkan dan memotivasi bagi para Entrepreneur pemula tapi sharinglah pula kendala/rintangan yang dialami jangan hanya Instant-nya aja seperti, seperti yang Pak Wuryanano katakan "itu menyesatkan" betul sekali.... Akhirnya para Entrepreneur pemula yang diketahui hanyalah gampang dan manisnya padahal menurut saya suatu kesuksesan itu melalui Tahap, kerja keras,Belajar. Tidak terjadi dalam semalam atau beberapa jam. Justru disitulah nikmatnya menjadi Entrepreneur, penuh dengan tantangan dan selalu belajar dan belajar dari action yang telah dilakukan kadang gagal tapi tidak menyerah malah bersyukur dan menjadikan kegagalan suatu ilmu yang sangat berharga dan ketika suatu saat dirinya sampai pada tahap Sukses, Mentalnya pun benar-benar Siap sebagai seorang Entrepreneur yang Sukses. Bagi saya itulah nikmatnya menjadi Entrepreneur, sampai saat ini pun terus belajar dan berjuang mencapai impian-impian yang belum tercapai :D, Semangattt!!! Doain yah....hehehe..(ngarep *mode on*)